Danrem 071/Wijayakusuma Hadiri Upacara Detik-detik Proklamasi di Pemkab Banyumas

Banyumas – Komandan Korem 071/Wijayakusuma Kolonel Kav Dani Wardhana, S.Sos., M.M., M.Han., hadiri Upacara Detik-detik Proklamasi Tingkat Kabupaten Banyumas, Sabtu (17/8/2019) di Alun-alun Purwokerto, Banyumas.

Ribuan peserta mengikuti upacara ini yang terdiri dari Korsik Ajenrem 071 Wijaya Kusuma, Pasukan TNI, POLRI, SATPOL PP, Hansip, KORPRI, PNS, PGRI, Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Kepemudaan, Mahasiswa, Pelajar, PMR dan Pramuka. Ratusan undangan juga terlihat antara lain Pimpinan Forkompinda, Pimpinan dan Anggota DPRD, Sekretaris Daerah, Para Veteran, Pimpinan Perguruan Tinggi, Tokoh Masyarakat di wilayah Kabupaten Banyumas. Diluar lapangan alun-alun juga terlihat warga masyarakat menyaksikan upacara ini dengan tertib.

Bupati Banyumas sebagai Inspektur Upacara memimpin peringatan Detik-detik Proklamasi dengan membaca Naskah Proklamasi, sedangkan Ketua DPRD Banyumas Juli Krisdiyanto, S.E. membacakan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Bertindak selaku Komandan Upacara Kapten Inf Sentot Priyanto Danramil 03/Patikraja Kodim 0701/Banyumas. Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih terdiri dari Pasukan 17 beranggotakan siswa-siswi SMA, SMK, MA baik Negeri maupun Swasta di Kabupaten Banyumas, dan Pasukan 8 didampingi oleh Anggota Denpom IV/I Purwokerto dengan didampingi 45 pasukan TNI dari Yonif 405/Surya Kusuma.

Bertindak sebagai Komandan Kompi, Letda Chb Heru Setiawan Dantonkom Kompi I B Yonif 405/Surya Kusuma , Komandan Paskibraka Eza Rahmat Ramadhan siswa SMA N 1 Jatilawang. Pembawa Bendera Pusaka Nadia Alya Shafa Siswi SMAN I Purwokerto, Petugas Pengibar Bendera Daffa Arya Danendra Siswa SMA N 2 Purwokerto, Andhika Prabaswara Siswa SMA N 3 Purwokerto dan Febrian Zaqi Nugroho Siswa SMA N 1 Jatilawang.

Gubernur Jawa Tengah H.Ganjar Pranowo dalam amanatnya yang dibacakan oleh Bupati Banyumas menyampaikan, Seperti ungkapannya Gus Dur, orang tak akan bertanya apa agamamu, apa sukumu ketika
berbuat baik. Dalam masa perjuangan setelah kemerdekaan ini sudah semestinya kita tidak
membedakan suku, agama atau pun ras.Tak peduli warna kulit, rambut, jenis kelamin, kaya atau pun miskin. Semua sama di mata negara.

“Founding fathers bangsa ini telah memberi contoh lewat laku, bukan sekadar gembar gembor persatuan. Mereka berdarah-darah menegakkan kemerdekaan.
Sebenarnya kita pun mewarisi semangat itu. Namun karena kadang kita memupuk borok dalam dada, membuat kita terlena hingga dengan rasa tanpa dosa saling menghina dan mencerca,
bahkan ada nekat hendak mengganti Pancasila”, terangnya.

“Siapa yang mempermasalahkan Agustinus Adisucipto sebagai pahlawan. Apakah karena
beliau seorang Katolik, lantas yang dari Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Kong Hu Chu menggerutu. Kemudian Albertus Soegijapranata, Beliau merupakan uskup pribumi pertama di Indonesia. Bahkan karena nasionalismenya keras, beliau tidak henti-hentinya mengagungkan semboyan “100%
Katolik,100% Indonesia” dan ungkapan itu terus berdengung hingga kini”, ungkapnya.

Mari kita tengok pahlawan dari Budha, lanjutnya. Yang merupakan saudara kita sendiri dari Banyumas, Letjen Gatot Subroto.
Yang tidak kalah penting perannya dalam perjuangan adalah saudara-saudara kita dari Tionghoa. Ada Yap Tjwan Bing lahir pada 31 Oktober 1910 di Solo. Beliau merupakan satu-satunya anggota PPKI dari Tionghoa dan turut hadir dalam pengesahan UUD 1945 dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 18 Agustus 1945. Ada pula Liem Koen Hian merupakan salah satu anggota dari BPUPKI. Bahkan beliau jadi salah satu inspirator Bung Karno ketika pidato di majelis BPUPKI tentang berdirinya negara yang tanpa berasaskan ras maupun agama.

“Sepatutnya kita pun berterima kasih pada tokoh keturunan Arab, Faradj bin Said bin
Awak Martak. Pedagang kelahiran Yaman Selatan ini dengan berani menyediakan rumahnya di
Pegangsaan Timur No 56 sebagai lokasi Proklamasi Kemerdekaan RI.
Lantas siapa yang mempermasalahkan kepahlawanannya I Gusti Ngurah Rai, Untung Suropati, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari
karena agamanya. Bibit jiwa kita adalah bibit Tepo Sliro, bibit Andarbeni, bibit Paseduluran”, sambungnya.

Ditegaskan, Pancasila sebagai dasar Republik adalah harga mati. Tidak bisa ditawar dan harus kita tanam sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi. “Pancasila inilah sebagai induk semangnya negara ini, yang di dalamnya bersemayam ajaran-ajaran 5 agama: Hindu, Budha, Islam, Katolik, Kong Hu Chu
dan Kristen.Yang di dalamnya bersemayam spirit-spirit berasaskan kebudayaan Nusantara. Kalaulah sistem pemerintahannya pernah berubah, toh akhirnya jiwa-jiwa yang telah menyatu dari
Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote tidak bisa dipisahkan”, jelasny.

Sejarah mencatat, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 sistem pemerintahan sempat berganti menjadi Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949. Namun akhirnya sejak 17 Agustus 1950 Tanah Air ini kembali tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Seperti ungkapan Bung Karno, “Di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia
yang kekal dan abadi.”
Bung Karno mengatakan, “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan
Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong royong.

“Ho lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama, tekad kebersamaan, senasib sepenanggungan inilah yang terus kita emban untuk menghadapi zaman.Sejak dilahirkan Indonesia
mendapat berbagai tantangan dan persoalan berat, mulai dari seringnya bencana alam, korupsi,
konflik sosial, gerakan separatisme dan radikalisme, belum lagi tantangan modernisasi
yang bergerak seiring dentang jam.
Jangan lagi ada niatan mengganti ideologi bangsa”, paparnya.

“Wahai pemuda, persiapkan mental dan akalmu. Jangan melempem berhadapan dengan
bangsa lain, jangan lembek ketika ada yang mengejek. Kepalkan tekadmu, bulatkan semangatmu.
Saudara-saudaraku, semua hal itu akan mampu kita hadapi dengan satu senjata, kebersamaan. Kita ini diciptakan atas satu jalinan sebagai sapu lidi, yang jika lepas ikatannya ambyar kebangsaan kita, ambyar negara kita, ambyar
Indonesia Raya. Sejarah telah mengikat kuat kita, perasaan senasib sepenanggungan telah
menyatukan kita, dan Pancasila telah mendasari kita sebagai bangsa dan negara yang besar.
Yakinlah kecemerlangan bangsa ini takkan lama lagi. Indonesia akan berjaya seribu windu lamanya”, ajaknya.

Pada Upacara Pengibaran Bendera dalam rangka HUT ke 74 Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 2019 tingkat Kab.Banyumas juga dilaksanakan Penyematan Tanda Kehormatan Satya Lencana Karya Satya yang diserahkan secara simbolis kepada para Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Kabupaten Banyumas sebanyak 3 orang dengan kriteria untuk kategori Tanda Kehormantan XXX Tahun sebanyak 1 orang dan Kategori Tanda Kehormatan XX Tahun sebanyak 1 orang dan Kategori Tanda Kehormatan X Tahun sebanyak 1 orang.

Sharing is caring!